![]() |
| As-syekh Habib Saggaf bin Mahdi bin Assyekh Abi Bakar bin Salim |
RMEDIA,Bogor--Pesantren Nurul Iman Parung Bogor didirikan oleh As-syekh Habib Saggaf bin Mahdi bin Assyekh Abi Bakar bin Salim, yang lebih akrab dengan panggilan “Abah” di kalangan santri PP Al-Ashriyyah Nurul Iman dan masyarakat sekitarnya Pelajaran Berharga dari Pesantren Nurul Iman Parung Bogor.Pesantren ini telah menggratiskan hampir 18.000 orang santrinya. Pertanyaannya kok bisa? Dari mana sumber dananya? Pertanyaan ini terjawab setelah kami melakukan kunjungan ke pesantren ini. Kami diajak keliling dan ditunjukkan ke beberapa unit usaha pesantren ini. Usaha roti yang produksi dan dikelola secara mandiri oleh pesantren dengan melibatkan para santri yang tela lulus S1 sekaligus memberikan bekal kewirausahaan bagi mereka ternyata mampu menggerakkan ekonomi pesantren.
Tidak hanya itu, usaha percetakan untuk memproduksi semua kebutuhan proses belajar mengajar diproduksi sendiri dengan mengandalkan sistem ekonomi mandiri (yang presiden soekarno menyebutnya dengan "Berdikari") diterapkan secara konsisten dengan komitmen tinggi untuk tidak bergantung pada pihak lain melalui sistem "Turn offer"(perputaran asset ekonomi secara internal).
Perjalanan kami berlanjut ke dapur umum pesantren yang harus menyiapkan makan 3x sehari untuk 18.000 santrinya. Pengelolaan dapur dengan tenaga uap ini juga penuh inspirasi, uap yang dihasilkan dari pembakaran kayu dialirkan untuk keseluruh tungku dan berbagai kebutuhan pondok. Mereka juga memproduksi tahu dan susu kedelai sendiri yang ampasnya dikelola untuk pakan ternak (beberapa peternakan sapi di areal yang lain termasuk kandang kambing). Bahkan sampah yang diproduksi oleh pesantren ini dikelola secara mandiri, baik organik (yang kemudian diolah menjadi pupuk-- bagi berbagai lahan pertanian yg dimiliki) maupun non organik (yang setelah dilakukan proses sortir dilelang secara terbuka secara online ke berbagai pihak).
Pesantren ini juga memiliki lahan pertanian yang mampu menghasilkan nilai 7 juta perbulan yang dapat dikonsumsi oleh para santri. Selain itu 9 hektar tambak ikan/empang yang hasilnya dipasarkan diluar pondok karena dianggap lebih menguntungkan untuk selanjutnya ditransaksikan bagi usaha pesantren lainnya yang prospektif.
Hal menarik lainnya atas pesantren ini adalah juga menguatkan karakter para santri melalui konsep santri bela negara. Bahkan kedisiplinan santri dibangun dengan ketat yg terintegrasi dengan tugas kepesantrenan dengan berbagai kegiatan ektrakulikuler yang banyak. Untuk menegaskan kedisiplinan ini setiap santri wajib memiliki beragam tanggungjawab pengabdian serta punishment yang mendidik (sebagai contoh mereka dilarang meludah sembarangan, melongo, bahkan mengambil buah buahan disekitar pesantren pun) semua itu dinilai secara materi yang mereka harus menggantikannya kelak setelah lulus (sebagai wujud keterikatan atas pesantren). Setiap santri dilatih kewirausahaan secara nyata bahkan para santri dilarang untuk menjadi pegawai (kelak setelah lulus) mereka didorong untuk berani mandiri sebagai wirausaha sebagaimana bekal modal aktifitas yang selama ini telah dibangun di pesantren.
Mungkin masih banyak hal lain yang sangat luar biasa yang ditunjukkan oleh pesantren nurul iman. Satu kesimpulan sederhana yang kami peroleh dari studi ke Pesantren Nurul Iman yaitu ternyata bahwa perpaduan antara kedermawanan, ketawakkalan, keberanian dan kemandirian mampu melahirkan keajaiban yaitu turunnya berkah dari langit.
terima kasih atas inspirasinya...
Semoga banyak pesantren di Indonesia yg memiliki kemandirian sebagaimana pesantren ini serta mampu mewujudkan pendidikan murah (gratis) bagi masyarakat bangsa Indonesia ini.
Akh. Muwafik Saleh,
Bogor,10 Agustus 2016. Dekan Ekonomi Univ. Brawijaya
Biografi Habib Saggaf bin Mahdi BSA Parung
As-syekh Habib Saggaf bin Mahdi bin Assyekh Abi Bakar bin Salim, yang lebih akrab dengan panggilan “Abah” di kalangan santri PP Al-Ashriyyah Nurul Iman dan masyarakat sekitarnya adalah sosok ulama, guru dan pendidik yang penuh inspirasi, memiliki integritas keilmuan lahir dan bathin, dan pandangan modern tentang bagaimana mewujudkan masyarakat yang sejahtera, yang lepas dari belenggu kebodohan dan kemiskinan. Jauh sebelum para politisi bangsa kita menggembor-gemborkan sekolah gratis sebagai slogan kampanyenya, ulama keturunan Yaman kelahiran Dompu, Nusa Tenggara Barat ini sudah memulai gerakan pendidikan bebas biaya. Saat ini tercatat lebih dari 18.000 santri belajar secara gratis di Pondok Pesantren Al-Ashriyyah Nurul Iman yang didirikanya. Dilahirkan dua hari menjelang hari proklamasi kemerdekaan Indonesia yaitu pada tanggal 15 Agustus 1945, beliau menghabiskan masa mudanya dengan menuntut ilmu di Pesantren Daarul Hadits Malang.
Di Pondok Pesantren Daarul Hadits, Malang, beliau diterima oleh sang pengasuh pesantren, Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfaqih al-Alawy. Beliau nyantri di pesantren ini dengan sangat cemerlang selama dua tahun tujuh bulan. Setelah itu beliau melanjutkan mengajar Fiqh dan Nahwu selama kurang lebih tiga belas tahun.
Setelah mengabdikan diri di Pondok Pesantren Daarul Hadits Malang, beliau berguru ke Masjid Sayyidina Abbas di Aljazair selama lima tahun dan i'tikaf di Makkah selama lima tahun. Kemudian beliau melanjutkan pendalaman ilmu agama berturut-turut di Bahrain. Sebelum kembali ke tanah air, beliau juga pernah mengajar di beberapa negara seperti Italia, Taiwan, Singapura, Malaysia dan Brunei Daarussalam. Beliau juga sempat memperdalam ilmu tariqat di Irak.
Setelah beberapa lama di Irak, beliau memutuskan untuk kembali ke tanah air. Sang guru tariqatnya yang beraliran Syadziliyah, merekomendasikan agar beliau memperdalam tariqat di Mranggen, Demak.
Setelah beberapa lama, beliau pulang ke kampung halaman dan mengamalkan ilmunya dengan mendirikan pesantren Ar Rahman yang hingga saat ini masih berdiri.
Berbekal keilmuan dan pengalaman yang beliau miliki, sesampainya di tanah air beliau kembali mendirikan Pesantren Daarul Ulum di Surabaya yang banyak menerima murid dari Singapura, Malaysia, Brunei Daarussalam serta Afrika, sebelum akhirnya pindah ke Jakarta dan mendirikan Pondok Pesantren Al-Ashriyyah Nurul Iman di Desa Warujaya, Parung hingga saat ini. Sosok yang senantiasa berjubah putih ini memiliki komitmen yang kuat untuk kemajuan dunia pendidikan. Cita-citanya dalam mewujudkan pendidikan gratis adalah mimpi yang menjadi kenyataan di tengah kondisi bangsa yang terpuruk akibat krisis moneter di tahun 1998. Bagi Abah, jawaban tepat atas semua kekacauan yang terjadi pada bangsa ini adalah pendidikan. Pendidikan yang baik akan melahirkan SDM yang tangguh, profesional dan berkualitas, sehingga ke depan masyarakat Indonesia akan menjadi masyarakat yang memiliki kemampuan untuk mengelola secara baik dan bertanggung jawab atas setiap potensi yang Allah karuniakan pada bangsa ini.
Seluruh hidupnya adalah pengabdian untuk dunia pendidikan. Komitmennya yang kuat terhadap pendidikan mencerminkan integritas antara ilmu dan amal. Begitulah seharusnya sosok seorang pendidik, Abah mengamalkan betul apa yang pernah disabdakan oleh Rasulullah, “khoiru man yamsyi fauqal ardli al mualim”, sebaik-baik orang yang berjalan di muka bumi ini adalah guru. Menurut Abah kata “mualim” memiliki makna yang lebih luas dari guru yaitu pendidik, karena seorang pendidik tidak hanya bertanggung jawab pada pengembangan intelektualitas muridnya namun juga bertanggung jawab pada perkembangan seluruh aspek kehidupan muridnya.
Di kalangan santri Pondok Pesantren Al-Ashriyyah Nurul Iman, Abah dikenal sebagai sosok yang tegas dalam menerapkan kedisiplinan. Bagi Abah, tugas santri hanyalah belajar dan belajar, tidak perlu memikirkan biaya pendidikan, makan, listrik, tempat tinggal dan lain sebagainya, semuanya telah difasilitasi oleh Pesantren, tidak ada uang sekolah, uang buku, uang makan, uang asrama ataupun lainnya, semua kebutuhan pokok yang diperlukan santri sudah disiapkan oleh pesantren. Sungguh merupakan model pendidikan yang mensejahterakan, model pendidikan masa depan untuk bangsa, semua itu lahir dari sentuhan emas sosok kharismatik Abah yang betul-betul menjiwai pendidikan.
Menurut Abah, seorang manager pendidikan harus tahu betul apa yang dibutuhkan dalam penyelenggaraan pendidikan. Bangsa kita masih lemah dalam mengatur dan melaksanakan pendidikan, padahal kalau kita mau mengacu pada al-Qur’an dan meneladani ajaran Rasulullah Saw, maka semuanya akan berjalan dengan baik. Berdasarkan keilmuan dan pengalaman serta pengamatan Abah yang memiliki kecintaan yang sangat tinggi terhadap al-Qur’an, perpaduaan antara model pendidikan dalam negeri dan model pendidikan luar negeri, antara keilmuan umum dan keilmuan agama yang saling melengkapi saat ini diterapkan di Pondok Pesantren Al-Ashriyyah Nurul Iman. Selain itu, sarana dan prasarana pendukungpun dilengkapi sedemikian rupa, mulai dari ruang kelas laboratorium, dan program-program pengembangan ekstra dan intra kurikuler yang lengkap, perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan harus dilakukan secara menyeluruh dalam dunia pendidikan. Sebagai sistem, pendidikan harus diselenggarakan secara utuh agar tidak terjadi kesenjangan yang bisa mengabaikan tujuan dan fungsi pendidikan.
Setiap pagi ba’da subuh, Abah memberikan pengajian umum kepada seluruh santri dan masyarakat sekitar. Dengan kepandaiannya pula dalam menguasai Qiraah Sab’ah (bacaan al-Qur’an dengan riwayat tujuh imam, Red), beliau selalu dinantikan oleh para jamaahnya di Singapura.[Sang Pangeran Nahwu][rm]

0 comments so far,add yours